SILATURRAHMI ALUMNI DAN TEUNGKU DAYAH SEKABUPATEN PIDIE JAYA

Ketua Sirul Mubtadin (no 2 dari kiri ke kanan), Tgk. Rusdi Imam Besar BMU, Tu Sop (no. 4 ) dan Ketua BMU Pijay, H. Sibral Malasyi, MA (no. 5). Foto : Is/hR.

Pidie Jaya, haba RAKYAT

 

Silaturrahmi Alumni Dayah sekabupaten Pidie Jaya, dilaksanakan di Dayah Irsyadul Ulum Al Aziziah gampong Dayah Kruet, Kecamatan Meurah Dua, Senin (14/5/2018).

Acara yang dihadiri para alumni dayah di kabupaten Pide Jaya, juga di hadiri oleh calon bupati dan calon wakil bupati Pidie Jaya Tgk. Muhibbuddin HM Husen – HM. Yusuf Ibrahim serta ketua umum BMU Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi, MA. dengan mubaligh Tausiah adalah Tu Soep dari Jeunieb, Bireuen.

Dalam tausiahnya, Tu Sop mengupas prihal budaya ummat islam dengan tema, Kembalikan Sosialitas dan Marwah Bangsa Aceh Yang Penuh Syariat.

Menurut Tu Sop, runtuhnya peradaban sosialitas ummat Islam disebabkan kurangnya pemahaman ummat Islam tentang persatuan dan kesatuan. Ketika persatuan ummat pudar, maka rasa sosial perlahan-lahan juga lenyap. Rasa persaudaraan dan kasih-sayang sesama ummat Islam seakan perlahan terkikis oleh budaya barat yang kian hari kian merasuk dalam jiwa ummat Islam. Hingga ummat Islam tidak kokoh lagi.

“Sebagai bangsa yang taat agama dan penuh kasih-sayang, Aceh merupakan teladan bagi bangsa lain dalam hal syariat dan sosial budaya. Negara-negara timur tengah dan barat merasa segan akan bangsa Aceh yang terkenal kokoh persatuan dan tingginya rasa sosial terhadap sesama muslim. Hingga Belanda harus berfikir dua kali untuk masuk ke Aceh. Bahkan jendral Snoeck Huroenyoeh, (tentara Belanda) harus melakukan tipu daya dengan berpura-pura Alim (ulama) untuk masuk ke Aceh.

Tapi kapan, itu dulu semasa Sultan Iskandar Muda. Hukum, Budaya dan Kesatuan kita kokoh bagai menara. Lalu apa solusi ummat islam sskarang?. Bisajah kita putar ulang sejarah kita?.

Jawabannya, bisa Lewat berbagai organisasi Islam, kita bisa menjalin kembali persatuan itu. Umpamanya, lewat pengajian Sirul Muntadin, Barisan Muda Ummat dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya, yang tujuan dan fungsinya, menegakkan syariat, memperkokoh kesatuan sesama muslim.

Hari ini, para alumni dayah telah berkumpul di sini, mari kita coba bamgkit kembali persatuan ummat untuk memperkokoh jalinan rasa kepedulian kita terhadap agama, generasi dan yang utama adalah kuatkan kesatuan untuk rasa sosial sesama islam.

Sebab menyuruh berbuat baik adalah tugas kita bersama, terutama para pendakwah. Tapi yang mencegah mungkar itu siapa?.

Hari ini berbagai kemungkaran terjadi di bumi penuh syariat ini. Tiap hari kita bicara syariat, syariat dan syariat. Tapi pada pelaksanaannya adakah sesuai dengan apa yang dianjurkan nabi?

Untuk itu, para alumni harus bisa memahami bukan sekedar teori, tapi mesti praktek di lapanagan, bahwa kita harus aktif menegak kebenaran dan juga harus mau mencegah kemungkaran dengan cara.

Untuk itu, para alumni harus bisa memahami bukan sekedar teori, tapi mesti praktek di lapanagan, bahwa kita harus aktif menegak kebenaran dan juga harus mau mencegah kemungkaran dengan cara menguatkan persatuan yang kita mulai dari tangga paling bawah, lalu perlahan-lahan kita melangkah ke tangga berikutnya.

Ketika persatuan ummat kita kuasai, baru kita tempuh langkah-langkah yang telah kita rancang. Namun, jija persatuan ummat belum tercipta, maka jangan mimpi untuk menyelesaikan fenomena ummat yang kian terbalut budaya nafsi-nafsi.

Sebagai contoh, jari -jari kereta sangatlah kecil, tapi ketika dirangkai dalam satu roda, dia bisa memikul beban berat dan membawa kemana pemilik kereta itu suka. Dia bersatu dalam satu arah dan kuat.” ucap Tu sop.

Ketua Sirul Mubtadin Pidie Jaya, yang akrab disapa Tgk.Rusdi, membenarkan apa yang disampaikan Tu Sop, bahwa hari ini mari memulai sebuah trik untuk meguatkan kesatuan, terutama para alumni dayah sebagai motor penggerak, agar masyarakat kita jangan sampai terus-terusan terperangkap budaya luar (budaya kafir) yang menyesatkan.

Ketua Barisan Muda Ummat (BMU) Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi, MA yang akrab disapa Nyak Syi, dalam klarifikasinya dengan wartawan haba RAKYAT menjelaskan.

“Sebagai bangsa yang kuat syariat dan budaya, mari sama-sama kita bangkit dari keterpurukan yang selama ini menjangkit ummat.

Satu kali Umara (pemimpin) berkata, lebih efektif, dibandingkan seribu kali Ulama berdakwah. Kenapa? Karena umara punya kekuasaan. Dengan sebuah kebijakan yang dibuat oleh umara, maka kebijakan itu akan berjalan.

Jadi, untuk menciptakan sebuah daerah yang kuat syariat agamanya, maka dibutuhkan pemimpin yang paham syariat dan memiliki ilmu agama yang tinggi. Agar bisa menjalankan hukum syariat secara KAFFAH di daerahnya. Sebab itu adalah pondasinya.” tutup Nyak Syi. (Is/hR)