Di Sentra Kopi, Karantina Aceh Beri Pendampingan Masuki Pasar Ekspor

Bupati Aceh Tengah Drs. Shabela Abubakar dan Kepala Karantina Pertanian Aceh drh. Ibrahim, saat wawancara usai pembukaan acara Program Agro Gemilang. (Dok. Foto : Erwin).

Aceh Tengah – haba RAKYAT.

Bertempat di Tanoh Gayo, dataran tertinggi di Provinsi Aceh pusatnya kopi, Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Aceh menggelar program Agro Gemilang. Gerakan Ayo Galakkan Ekspor Produk Pertanian oleh Generasi Milenial Bangsa dimaksudkan untuk mendorong generasi milenial aktif di dunia pertanian. ”Gerakan yang sejalan dengan arahan Pemerintah untuk menyiapkan generasi muda menghadapi era revolusi industri 4.0,” kata Kepala Karantina Pertanian Aceh, Ibrahim saat memberikan laporan jelang pembukaan sosialisasi Agro Gemilang di Takengon, Senin (4/4).

Tujuan program ini adalah untuk menyiapkan bagi generasi yang akan memimpin Indonesia di tahun 2030. Program ini yang diluncurkan awal tahun dan diberlakukan serentak di seluruh Indonesia ini merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan pemuda tani berorientasi ekspor dalam pemenuhan persyaratan Sanitary and Phytosanitary (SPS). Adapun peserta yang disasar adalah para eksportir dan rumah kemas (packing house) komoditas pertanian, kelompok tani, pelaku tani, asosiasi komoditas pertanian dan mahasiswa fakultas pertanian, jelas Ibrahim.

Agro Gemilang yang digelar di lokasi koperasi Baitul Qiradh Baburrayyan, dengan target peserta adalah para petani kopi.  Diharapkan dengan pendampingan dari Karantina Pertanian Aceh ini petani dapat lebih siap memasuki pasar ekspor. ”Kegiatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan peran serta seluruh stakeholde agar dapat berperan aktif dalam pemenuhan persyaratan negara mitra dagang,” tambah Ibrahim.

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar yang hadir dan membuka sosialisasi Agro Gemilang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas program pembangunan pertanian diwilayahnya. Shabela juga menyampaikan bahwa perdagangan internasional saat ini memacu antar negara untuk meningkatkan potensi nasional masing-masing guna memenangkan persaingan global, termasuk juga petani kopi di daerahnya.  Merunut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor komoditas kopi baik jenis Arabika maupun Robusta asal Aceh di tahun 2018 mengalami kenaikan 538,43 % dengan total nilai 35.557 dolar AS. Komoditas yang memiliki rasa pahit dengan memiliki kadar keasaman yang tinggi ini merupakan salah satu komoditas andalan provinsi paling Barat di Indonesia ini. Untuk itu dengan adanya program pendampingan memasuki pasar ekspor ini diharapkan mampu terus mendongkrak ekspor asal Takengon ini, jelas Shabela.

Bersamaan dengan kegiatan ini, Bupati Aceh Tengah dan Karantina Pertanian Aceh juga melepas ekspor kopi sebanyak 20 ton dengan tujuan negara Amerika Serikat.  Turut hadir dan memberikan materi pendampingan ekspor pada komoditas kopi dari Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati, Barantan, Endang Suparman. Dengan talenta dan karekteristik generasi milenial, pendampingan Barantan dinilai bakal mampu meningkatkan daya saing di pasar global.”Potensi generasi muda dan resource yang ada di Aceh ini merupakan suatu berkah yang harus kita syukuri dan kita maksimalkan,” pungkas Ibrahim. (Rel – hR)