Ratusan Warga Kembali Geruduk PT. Medco E&P Malaka

Massa lingkar tambang kembali melakukan unjuk rasa, aksi kedua kalinya ini di dominasi oleh kaum Ibu yang membawa serta anaknya dan berorasi di kantor PT. Medco, CPP Blok A, Kabupaten Aceh Timur. (Foto/hR/Ist).

Aceh Timur – haba RAKYAT.

Ratusan warga lingkar tambang telah melakukan unjuk rasa di hari pertama, namun sayangnya tidak membuahkan hasil. Kamis (16/5), tepatnya pada 11 hari Ramadhan. Masyarakat di Kecamatan Indra Makmu kembali menggeruduk perusahaan pertambangan minyak PT Medco, CPP Blok A di Aceh Timur.

Masyarakat lingkar tambang kembali berorasi dan menuntut PT. Medco untuk segera mungkin menyelesaikan permasalahan polusi dan bau menyengat yang telah mengusik kenyamanan warga yang diduga akibat pencemaran limbah diseputaran perusahaan raksasa tersebut.

Di hari kedua unjuk rasa, terlihat sejumlah kaum ibu – ibu dengan membawa anak – anaknya hadir ke perusahaan tersebut. Mereka menyesalkan kinerja PT. Medco yang belum menanggulangi permasalahan pencemaran udara disekitar lingkar tambang.

Menurut kaum ibu, kehadiran mereka dalam orasi di hari kedua ini untuk menyampaikan secara langsung akan dampak pencemaran udara, yang diduga berasal dari limbah PT. Medco E&P Malaka.

“Kami ikut demo ini, karena Medco telah mengganggu dan merampas kenyamanan kami dengan adanya bau menyegat dari perusahaan itu,” papar Erni (28) salah satu pendemo.

Dalam orasinya, kaum emak-emak ini juga menyampaikan, bahwa mereka tidak meminta uang, melainkan meminta PT. Medco menanggulangi bau busuk yang telah mencemarkan udara.

“Bau busuk ini harus dijamin hilang,” teriak Emak-emak.

Menurut kaum ibu, sebelum kehadiran PT Medco di Indra Makmu warga tidak pernah merasakan bau menyegat ini.

“Akibat dari pencemaran udara ini, anak-anak kami menderita demam.
Mual, sesak dan muntah,”kata Erni.

Kalo begini terus, berati kehadiran PT Medco ini menjadi malapetaka untuk kami masyarakat lingkar tambang,” teriak massa.

Aksi yang berlangsung hingga pukul 10.00 WIB itu, juga tidak mendapatkan kejelasan, dari pihak perusahaan yang diduga enggan menemui massa.  (Azhar/hR)