LABANG BANGSA Ajak Para Elit Bersikap Bijak, Wacana Referendum Aspirasi Aceh

Direktur Eksekutif LABANG BANGSA Hery Safrizal. (Foto/Ist).

Aceh Utara – haba RAKYAT.

Direktur Eksekutif LABANG BANGSA Hery Safrizal menyebutkan.Wacana Referendum yang di sampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA-PA) H. Muzakir Manaf (Mualem) di sela sela berbuka puasa bersama beberapa waktu lalu adalah salah satu aspirasi atau mewakili keresahan hati bangsa Aceh terhadap situasi terkini suhu politik Nasional pasca Pilpres. Hal tersebut disampaikan Heri Safrizal dalam pers rilisnya kepada media ini. Minggu (2/6).

“Kami kira bukan tanpa alasan Mualem mengeluarkan statement seperti itu, sudah 14 tahun Aceh Damai dalam bingkai NKRI, ternyata belum adanya perubahan yang signifikan terhadap perkembangan ekonomi dan kemajuan Aceh di hampir semua aspek. Ada banyak butir perjanjian yang belum selesai baik benang merahnya di Aceh sendiri atau di pusat. 

Kami mengajak para pihak untuk lebih objektif terhadap issue tersebut, baik elit di Aceh, pusat bahkan luar negeri. Aceh hanya ingin damai, tetapi jika air putih saja di bola bola yang mestinya hak Aceh adalah susu, wajar kemudian Aceh interupsi tunjuk tangan dan angkat bicara. Kata Hery Safrizal.

Mari bersatu padu mencarikan solusi terbaik, kepada yang kontra sekalipun mari bijak, karena ini aspirasi Aceh, politik Aceh dan persoalan Aceh, jika pun kemudian ini menjadi barometer keberhasilan, maka effectnya juga bemuara kepada segenap lapisan bangsa Aceh. Hery menambahkan.

Barang kali tanggung jawab moral sebagai Panglima yang masih mempunyai ratusan ribu tentaranya dilapangan yang belum terakomodir 
hak-hak nya sebagai kombatan.

“Sikap Mualem sudah tepat, meski tidak dipungkiri semua punya prosedur dan aturan main, sehingga kami mempunyai pandangan bahwa pusat tidak perlu alergi dan menanggapi berlebihan terkait apapun aspirasi yang disuarakan Aceh. Persoalan bisa atau tidak diakomodir itu persoalan lain, setidaknya UU menjamin kebebasan masyarakat menyampaikan pandangan, berserikat dan sebagainya, karna pada akhirnya ini bukan lagi siapa ngomong apa, tetapi bagaimana Aceh dan Bangsa nya hari ini. Sudah cukup adilkah perlakuan pusat.?

Sudah saatnya para pihak mengevaluasi dan terus menyanding persepsi, ada apa dengan Aceh, akan seperti apa lagi Aceh. Jangan malah menyanggah dengan delik hukum yang berlebihan, kita hanya perlu duduk semeja, menemukan formula untuk Aceh sehingga Aceh merasa dihargai dalam urutan provinsi yang mempunyai hak Istimewa.” Demikian Hery Safrizal. (Azhar/hR)