M. JAMIL GELUTI USAHA MINYAK DAUN CENGKEH, PEMDA TUTUP MATA

Simeulue – haba RAKYAT.

Cengkeh, merupakan komoditas yang selama ini menjadi salah satu andalan bagi sejumlah petani di Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Terutama di saat musim buah, tidak hanya buah cengkeh yang laku dijual, namun daunya pun sangat banyak peminatnya.

Untuk daun cengkeh, terutama yang telah tua dan gugur biasanya hanya akan terbuang begitu saja di bawah pohonnya. Malah oleh pemiliknya dianggap sebagai sampah yang mengganggu keindahan dan kebersihan saja. Sehingga selama ini daun cengkeh tersebut dibuang atau dibakar agar kebun cengkeh mereka tetap bersih.

Awak media ini menyambangi usaha daun cengkeh milik M. Jamil (68), salah seorang warga Desa Karya Bakti Kec. Salang, Kab. Simeulue, Sabtu (15/6/2019). Ia Mengatakan mendapat bantuan berupa penyulingan minyak (Ketel) dari pihak NGO untuk membuka usaha tersebut.

“Satu ketel menampung 1 ton 200 Kg daun cengkeh kering dan hasil minyaknya lebih kurang 25 kg.” Ucap M. Jamil.

Sepulu tahun sudah M. Jamil menggeluti usaha sampah tersebut, “Sampai saat ini kita tetap geluti usaha seperti ini serta membuka lapangan kerja pada masyarakat, kita terima dari masyarakat bahan bakunya dengan harga Rp 1.200 perkilogram daun cengkeh yang telah menguning dan berguguran ke tanah dicari dan dikumpulkan warga. Sebab, daun-daun cengkeh tua tersebut sudah menjadi barang yang sangat berharga, sehingga tidak lagi dianggap sampah.

Daun cengkeh tua, dapat di produksi untuk mendapatkan minyaknya yaitu minyak daun cengkeh (clove leaf oil) dengan cara proses penyulingan dan harga jual ke daratan Sumatra ratusan ribu,” ujarnya.

lanjutnya, minyak cengkeh hanya membutuhkan peralatan yang terbilang sederhana yaitu berupa tungku perapian yang di atasnya terdapat sebuah ketel berukuran satu ton 200 kg, serta pipa-pipa yang berguna untuk menyalurkan uap minyak yang dihasilkan dari penyulingan.

Selain untuk membuat minyak dan pengganti kayu bakar, lanjut M. Jamil, bekas sisa hasil pembakaran daun cengkeh ini juga bisa digunakan sebagai kompos, sehingga tidak ada daun yang dibuang.

Sisi lain M. Jamil mengutarakan kekecewaan, sekian tahun usahanya pihak donatur atau yang disebut Bank setempat tak terima dengan permohonan pinjaman dana dari M. Jamil yang lengkap administrasi serta dilampirkan  penghargaaan berupa sertifikat dari NGO dan surat- surat berharga lainnya. “Begitu juga Pemda setempat ibarat tutup mata,” keluhnya. (Sumadi/hR)