Pengelolaan Dana Desa Diduga Tak Transparan, Geuchik Tanjong Ara Didemo Warga

Aceh Utara, haba RAKYAT |

Masyarakat Desa (gampong) Tanjong Ara Kecamatan Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara menilai pemerintah gampong (Geuchik) setempat tidak transparan dalam pengelolaan Dana Desa Tanjong Ara dari Tahun 2017/2018/2019. Akibatnya ratusan warga mengadakan rapat terbuka dihalaman Meunasah gampong setempat. Jum’at (28/8/2020) malam.

Amatan media ini, aksi damai itu dimulai sekira pukul 21.20 WIB, dilakukan oleh tokoh masyarakat, para pemuda dengan cara melakukan orasi dan membentangkan sejumlah spanduk bertuliskan kalimat bahasa Aceh yakni.
Kepada yang terhormat bapak Geusyik Gampong Tanjong Ara, Neutulorng Puegoet Rapat umum Sigoe goe di Muelasah

LPJ Keu Tuha Peut Nuejok, Papeun Infografis APBdes Hana Neutipeek,
Rapat Umum Pih Hana Lee Nuepuegoet

Koordinator aksi Hery Safrizal sapaan akrab Hery Tanjong saat ditemui media ini dilokasi mengatakan alasan mereka melakukan Aksi tersebut setelah pihaknya mengalami opsi buntu, karena sebelum nya ruang diskusi dan forum kecil dengan lembaga Tuha Peut dan permohonan tertulis kepada geuchik tidak pernah ditanggapi.

Sebagai masyarakat kami punya hak atas akses keterbukaan informasi terhadap  perkembangan pembangunan dan lainnya di gampong kami, dan itu dibenarkan oleh undang-undang. Namun di gampong kami selama ini terkesan ditutup tutupi. Aksi ini adalah pilihan akhir dari buah kesabaran kami yang di hargai seperti sampah oleh geuchik kami sendiri” kata Hery.

Pengelolaan Dana desa Tanjong Ara tidak transparan, dikarenakan semua program kegiatan yang mengunakan anggaran negara warga tidak pernah tahu, tidak ada rapat, tidak dipasang papan Info Grafis APBdes.”Kami lihat di gampong lain, Dana desa dikelola secara transparan, namun disini tidak terbuka dengan masyarakat, kenapa bisa seperti ini” sebut Hery dalam orasi nya.

Kamoe hana rencana dan maksud puetroen Geusyik, justru kamoe pakat pak Geusyik Geujak u Meulasah, taneuk tuka tuka pendapat dan informasi perkara gampong (Kami tidak bermaksud menurunkan geuchik. Tapi kami ajak geuchik ke Meunasah (surau) untuk tukar pendapat dan informasi permasalan Desa).

Dalam aksi damai itu juga diikuti oleh kaum perempuan dan anak anak, mereka tampak antusias mendengar orasi dari para tokoh dengan menggunakan pengeras suara dan bentangan baliho raksasa diharapkan geuchik atau sekdes hadir dan bersedia menandatangani petisi pernyataan.

Kami sudah pernah mengadu kepada Tuha Peut dan audiensi dengan camat, namun seperti angin lalu. Pemuda malah dilapor dan bawa ke polsek dengan alasan pencemaran nama baik. Aneh kan? Padahal ini jelas aspirasi dan permohonan. Saat kami mohon pada geuchik diadakan rapat umum, malah ditanggapi dengan sikap arogansi, ujar Hery dihadapan warga setempat.

Lanjutnya, seharusnya hak masyarakat memperoleh informasi tentang pengelolaan desa tersebut harus dipahami dan dipelajari oleh Geuchik,” jika tidak mengerti dan tidak mau belajar tentang aturan dan UU,  sebaiknya geuchik mundur dari jabatan dan mungkin lebih terhormat, cetus nya.

Kami juga berpesan Tgk Imum agar tidak ikut campur dan ambil alih terhadap pelaksanaan pengelolaan pemerintahan Desa khususnya bidang tertib anggaran, tertib administrasi dan tertib, fety laporan, bersikap arif dan profesional lah sebagai guru rohani kami, kecuali mendorong Geuchik beserta aparatur lainnya untuk memakmurkan meunasah, selain sebagai sarana ibadah, tempat pertemuan, tempat penyelesaian sengketa dan tempat pengambilan keputusan bersama gampong, sesuai dengan kearifan lokal dan peninggalan indatu kita pendahulu” ungkap Hery Tanjong.

Semoga ini menjadi catatan untu Muspika, agar para kepala desa yang lain dilakukan monitoring, evaluasi terhadap kinerjanya untuk dapat ditegur jika bertindak arogan dan tertutup kepada rakyatnya sehingga terciptanya tatakelola gampong yang baik dan berkualitas.” pinta Hery.

Dalam Aksi Damai itu turut hadir Abi Haikal tokoh masyarakat setempat dan menyampaikan tausiah singakat untuk meredam situasi. Salah satu anggota Tuha Peut aktif M Hasbi dan mantan Tuha Peut, para pemuda, kaum ibu dan anak anak.

Keuchik Tanjong Ara Mawardi dan jajaran nya  tidaj nampak hadir. Beberapa wartawan menghubungi nya via hanphoen selularnya namun tidak diangkat. Begitu juga dengan Camat Tanah Jambo Aye hingga berita ini dilansir media ini belum mendapatkan konfirmasi. (hR/Az)

Don`t copy text!