Alat Berat Proyek Rel Kereta Api Diduga Pakai BBM Subsidi

Foto : Alat berat Exscavator di proyek PJKA Tebing Tinggi Dolok Merawan, diduga memakai minyak non subsidi, Jum’at (11/9/2020). (Dok/hR/Said Tarmidi Assegaf)

Tebing Tinggi – haba RAKYAT |

Alat berat Exscavator di proyek PJKA Tebing Tinggi Dolok Merawan, diduga memakai minyak non subsidi. Di era kepemimpinan Presiden Republik Indonesia, H. Joko Widodo, terlihat jelas pembangunan insfrastruktur yang maju pesat dan sebagian masih dalam kondisi pengerjaan. 

Namun mirisnya, masih ada oknum – oknum pihak pemenang tender proyek  yang “Nakal” dalam pelaksanaan atau pengerjaan di lapangan.

Bahkan tak jarang, pihak PJKA diduga sampai “melanggar hukum” hanya untuk meraup keuntungan yang lebih besar. 

Salah satunya, proyek Perusahaan Jawatan Kreta Api Tebing Tinggi – Dolok Merawan, yang memakai anggaran Dishub (Dinas Perhubungan) dan dikerjakan oleh PT. Bajahtera Tandapotan, ISO.

Pantauan awak media ini, pengerjaan proyek ini menggunakan alat berat (Exscavator) untuk mengorek tanah, di pinggiran jalur rel Kereta Api. 

Tetapi “gawatnya”, sekitar 9 bulan beraktivitas, BBM (bahan bakar minyak) yang dipergunakan, diduga adalah Jenis solar bersubsidi, yang disuplay dari SPBU (sentra bahan bakar umum). 

BBM bersubsidi hanya diperuntukan bagi masyarakat, bukan untuk proyek Raksasa

Padahal, BBM bersubsidi hanya diperuntukan bagi masyarakat, bukan untuk khusus Proyek “Raksasa” seperti proyek PJKA ini. 

Jika dugaan ini terbukti, maka praktik kotor ini telah melanggar pasal 55 junto pasal 56 undang – undang nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 tahun denda maksimal Rp. 6 miliar. 

Angga, selaku pengawas proyek tersebut saat dikonfimasi awak media, di lokasi Jumat (11/9/2020) mangaku, pekerjaan ini sudah sekitar 9 bulan.

Namun mengenai BBM non subsidi yang dipergunakan, dia mengaku tidak mengetahui. Akan tetapi jika hal ini benar, itu jelas salah, katanya. 

Pekerjaan proyek ini dikerjakan oleh PT. Bajahtera Tandatopan dan ini sudah sekitar 9 bulan. Saya hanya mengawas pekerjaan di lapangan Pak, kalau masalah keluar-masuk BBM, itu adalah Bagian orang gudang. Akan tetapi, kalau ini benar, jelas ini salah Pak. BBM ini sekitar 150 liter per hari Pak,” ungkapnya. 

Di hari yang sama, Pepen, selaku bagian gudang, ketika dikonfimasi awak media, juga mengaku tidak mengetahui hal Ini.

Ketika disinggung, berapa liter per hari? Pepen menjelaskan, 1 alat berat menggunakan 3 derigen. Sedangkan alat berat yang digunakan ada 6 alat berat. Sehingga total yang dipakai ada 18 derigen per hari. 

Saya hanya menerima titipan saja, namun yang mengetahui lebih jelas adalah Pak Ridwan, selaku pengadaan barang,” jelasnya.  (Said Tarmidi Assegap/hR).

Don`t copy text!