Reje Paya Tumpi Baru Klarifikasi Vidio Viral “Bantuan Banjir Tak Disalurkan”

Idrus Saputra, S.Pd, Reje Kampung Paya Tumpi Baru, Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah, (foto/hR/Ist).

Aceh Tengah, haba RAKYAT |

Sebuah vidio menayangkan penimbunan bantuan terhadap korban banjir dan di klaim tak disalurkan di Desa Paya Tumpi Baru yang menyebar luas ke masyarakat, kini vidio berdurasi 5,49 detik tersebut belakangan menjadi viral di media sosial.

Reje (Kepala Desa) Paya Tumpi Baru, Idrus Saputra secara umum mencoba mengklarifikasi kebenaran vidio ini kepada masyarakat. Lewat media Idrus menerbitkan rilis pemberitaan, sebagai sanggahan dan mengumumkan secara resmi kebijakan aparatur desa menindaklanjutinya.

Berikut pers rilis diterbitkan Idrus yang disebarkan ke berbagai media, Kamis 1 Oktober 2020. Penerbitan rilis ini dikatakan Reje, sebagai upayanya meluruskan penilaian masyarakat :

Saya, Idrus Saputra, S.Pd, Reje Kampung Paya Tumpi Baru Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah, dengan ini menyampaikan kepada seluruh masyarakat terutama yang telah memberikan bantuan pasca banjir bandang di Posko Kampung Paya Tumpi Baru, bahwa semua bantuan yang didonasikan sejak pascabencana, telah disalurkan kepada semua dari yang bukan korban hingga lebih kepada korban yang sebenarnya.

Bantuan yang ada tersisa dalam Video itu akan terus disalurkan terutama kepada yang ber hak, yakni korban dengan kerugian berat atau Rusak Berat yang kondisi mereka saat ini masih mengungsi, atau menyewa rumah di luar kampung ini.

Barang bantuan Banjir dalam Video Viral adalah barang sisa yang masih tetap kami salurkan. Sebagian barang tersebut kami terima di desa pada bulan Juli 2020 lalu. Saat ini penyaluran barang bantuan di fokuskan hanya kepada warga Korban Banjir dengan Kategori Rusak Berat.

Data resmi Korban Rusak Parah dari Pemerintah Desa Paya Tumpi Baru ketika itu berjumlah 13 Kepala Keluarga (KK). Sementara, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengh pada akhir Mei 2020 mengeluarkan data ada Sembilan (9) KK Rusak Berat dan mendapat dana Sewa Rumah dari Pemerintah Daerah ketika itu. Masing-masing korban Rusak Berat berdasar data BPBD ini menerima lima juta rupiah.

Fokus Kepada Korban Kehilangan Rumah

Hingga saat ini, lima dari sembilan KK yang mengalami Rusak Berat akibat bencana lalu, kondisinya masih menyewa rumah di luar kampung. Selebihnya korban sudah kembali ke rumah mereka walau dalam kondisi rumahnya masih rusak, dengan sisa puing puing. Belum ada pembangunan yang berarti.

Pemerintah Desa masih terus melakukan dan membangun komunikasi kepada pemerintah daerah, kapan rumah Korban Banjir Bandang 13 Mei 2020 lalu ini akan dibangun. Pemerintah Desa juga belum dapat dengan pasti sejauhmana porsi penanganan Pemerintah Desa dan porsi penanganan Pemerintah Daerah atau Provisi atau Pusat. Semoga ini dapat segera tuntas dan jelas.

Walau pun demikian, Desa terus berupaya berkomunikasi melalui instansi terkait untuk kepastian dan perhatian rumah Korban Banjir Bandang Paya Tumpi Baru ini. Pertanyaannya, siapa yang membangun, ruma tipe apa, dan kapan dibangun. Pertanyaan ini belum dapat penjelasan pasti.

Namun Informasi yang kami terima dari BPBD Aceh Tengah pada Agustus lalu, kemungkinan bila dibangun dari daerah kemungkinan pendanaannya dari Baitul Mal daerah dalam bentuk Rumah Semi Permanen. Kemungkinan lain, disebutkan ada peluang juga yang pernah dijanjikan Provinsi Aceh akan membantu rumah Korban Banjir Bandang Paya Tumpi, namun juga belum ada kepastian yang jelas.

Melihat kondisi itu, Pemerintahan Desa masih terus memberikan perhatian penuh kepada Korban yang kehilangan Rumah ini. Upaya yang masih dapat kami lakukan memberikan bantuan kebutuhan pokok pangan dan sandang. Barang Bantuan yang masih ada di Gudang Kantor Desa Paya Tumpi Baru itu sepenuhnya untuk mereka yang Korban Rusak Berat ini, nasib mereka masih perlu perhatian karena belum dibangun rumahnya. Berharap segera dibangun rumah mereka dan Desa akan memberikan minimal perlengkapan dalam rumah dari barang yang tersisa seperti tikar, sepatu bot, alat dapur dan sebagainya yang diperlukan oleh korban ketika telah memiliki rumah.

Bahan pangan yang tersisa di gudang Kantor Desa hanya berupa beras. Beras ini juga diperuntukan hanya kepada Korban Banjir yang sebenarnya korban. Sebagian korban banjir kondisi ekonominya tergolong sulit dan miskin. Mereka ada yang berstatus Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) dan juga masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial DTKS. Beras ini secara normal tetap disalurkan kepada mereka yang sebenarnya korban banjir bandang.

 Pembuat Video Bukan Korban Banjir

Namun bukan lagi kepada warga yang bukan korban banjir, apa lagi yang membuat video viral tersebut bahwa yang bersangkutan dan beberapa orang dalam video itu bukan korban banjir, tapi warga yang punya masalah lain yang seolah-olah korban dan ingin menguasai bantuan tersebut, untuk segera dibagikan kepada mereka.

Video Viral itu adalah fitnah dari yang membuat Video tersebut. Pembuat Video dapat saya buktikan dia bukan Korban Banjir yang sebenarnya. Statusnya hanya korban terdampak genangan banjir biasa. Ada persoalan lain sebenarnya yang melatarbelakangi aksi “si Perekam” gudang penyimpanan Barang Bantuan di Kantor Desa bersama emak-emak.

Diawali dengan adanya pertemuan antara warga dengan pemerintah desa terkait berbagai macam persoalan yang telah diramu oleh sekelompok oknum warga yang tidak puas atas kebijakan di desa. Mereka ketika itu mengajak lakukan pertemuan dengan Rakyat Genap Mufakat (RGM) pada 10 September 2020 dan diakhir pertemuan tersebut lalu memanggil Reje. Acara pada hari itu ternyata disepakati akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya yakni 17 September 2020.

Dalam dua pertemuan tersebut isinya dan temanya menanyakan kejelasan terhadap berbagai persoalan di Desa. Awalnya sekelompok warga yang diorganisir oleh beberapa aktor ini menanyakan tentang BLT DD lanjutan yang mengalami pengurangan jumlah KPM. Mengenai BLT Lanjutan yang mengalami penggurangan jumlah penerima, dapat Reje sampaikan bahwa hal tersebut berdasarkan rapat musyawarah bersama RGM, Pemerintah Desa, Unsur masyarakat, Tokoh Masyarakat serta perwakilan calon penerima BLT Lanjutan tersebut.

Pelaku Diduga Sakit Hati Karena Tidak Terima BLT  

Pada dasarnya pelaku yang membuat Video Viral tidak terdaftar sebagai penerima BLT sejak awal priode oleh sebab tergolong keluarga mampu berdasarkan musyawarah. Sejak itu, keluarga ini merasa tidak puas dan selalu “nupet” baik itu di tengah-tengah warga kampung dan juga di medsos. Padahal sebelum adanya BLT hubungan sangat baik-baik saja. Penetapan nama penerima BLT di Desa itu berdasarkan hasil musyawarah.

Selanjutnya, warga bertanya masalah Bantuan Banjir. Reje sampaikan dan menjelaskan dari awal hingga akhir penangganan yang dilakukan beserta data bantuan sembako yang tercatat dari siapa dan disalurkan kemana saja, serta data sumbangan dana dan peruntukannya kepada siapa dan untuk apa saja dana tersebut digunakan dalam proses kedaruratan bencana alam yang lalu. Semua dijelaskan dengan data terinci dari tanggal ke tanggal dan juga beberapa alat bukti-bukti pengeluaran.

Keterbukaan tersebut berharap menjadi hal yang dapat memuaskan semua warga yang hadir dalam pertemuan ketika itu, namun ternyata tidak. Justru keterbukaan malah membuat beberapa warga dalam pertemuan tersebut menjadi penyidik dan ada yang menjadi hakim.

Walau demikian, Saya tetap berupaya menjelaskan secara logis atas bencana dan situasi penanganan ke darurat. Mulai ada asumsi-asumsi dan menghakimi serta mencurigai atas apa yang dilakukan oleh Aparatur dan bekerja menangani pascabencana. Lucunya, yang menjadi koordinator dalam sekelompok warga yang berjumlah 30 orang ini justru bukan Korban Banjir.

Ada Upaya Untuk Menjatuhkan Reje

Saya menilai sudah ada niat lain dibalik ini semua. Selanjutnya kelompok warga yang hanya bersuara beberapa orang ini mulai mengaudit satu per satu langsung di dalam pertemuan tersebut. Kondisi sudah mulai memojokan Reje dan Aparatur Pemerintahan. Dalam pikiran saya mencoba untuk memahami bahwa hal ini adalah tanggungjawab, sebagai pemimpin dengan dinamika pikiran orang di Kampung.

Saya sadar bahwa saya tidak boleh dan harus banyak bersabar dengan hati penuh “dangdut” tidak boleh mengelak karena mereka adalah warga Saya yang meminta penjelasan atas persoalan yang “anggapnya” masih berupa masalah yang belum jelas.

Pada pertemuan ke-2 yakni pada Kamis 17 September 2020 di Kantor Desa itu, pada saat itu mereka menanyakan kepada Saya, “apa masih ada bantuan di kampung kita” mendengar pertanyaan dari salah satu warga, saya katakan “tidak ada lagi”. Saya mengira apa yang dipertanyakan itu menyangkut apakah bantuan masih datang ke kampung Paya Tumpi Baru.  

Ternyata maksud mereka adalah menanyakan apakah bantuan di desa ini masih ada tersimpan di gudang. Lalu sekelompok emak-emak ini memaksa membuka gudang. Lalu gudang di buka dan terjadilah asal muasal Video Viral tersebut. Memang Saya yang perintahkan kepada Kaur yang memegang kunci gudang untuk melayani mereka agar mereka bisa melihat.

Saya tidak menyangka kalau niat diantara beberapa warga yang masuk beramai-ramai membuka gudang lalu merekam dengan video dan pernyataan provokasi dan fitnah. Saya tidak mengetahui kalau pada saat itu mereka merekam dengan Video.

Rekayasa dan Mencemarkan Nama Baik

Pertama kali saya ketahui Video Viral tersebut berselang beberapa hari dari pertemuan terakhir itu, yakni pada malam 22 September 2020. Pertama sekali saya mendapat pesan WA dari salah seorang pengurus perkumpulan masyarakat Gayo di Jakarta, Gayo Musara Pakat (GMP) yang mengirim WA ke saya, meminta jelaskan atas Video Viral tersebut.

Alangkah terkejutnya saya ketika melihat dan mendengar kata-kata dalam Video itu menyebut nama-nama tuhan dan nabi. Sungguh emak-emak yang “kreatif” membawa nama Korban Banjir. Sebuah fitnah yang sangat menyakitkan saya dan istri saya, serta keluarga saya.  

Nama saya selaku Reje dan Kampung, saya yang pasca dilanda musibah sudah tercemar seolah saya menggelapkan bantuan banjir. Logikanya kalau mau digelapkan kenapa harus di gudang kantor desa di fasilitas milik desa. Kalau digelapkan itu di timbun di suatu tempat yang tidak diketahui orang atau mungkin di rumah saya, atau rumah lain di luar fasilitas desa, ini logikanya.

Memang yang membuat Video dan beberapa yang “sebarisan” dengannya, ada persoalan lain terhadap saya selaku Reje dan menghasut korban banjir. Saya sadar banyak persoalan “Kebiasaan Lama” yang ingin saya rubah menuju “Kebiasaan Baru”, di desa ini.

Hal ini memang tidak gampang, penuh tantangan. Mungkin dengan kebijakan saya di desa sekarang telah mengancam stabilitas kebiasaan lama mereka dan terganggu, maka sekelompok warga ini melakukan upaya-upaya lebih awal untuk caunter dan manufer dangan cara bar-bar dan provokasi.

Hingga hari ini akibat video viral tersebut, nama dan martabat saya secara pribadi jelas sangat dirugikan termasuk Kampung Paya Tumpi Baru yang saya cintai ini. Potensi hilangnya kepercayaan para kolega dan rekan-rekan saya yang tidak tahu persoalan sebab musabab video itu muncul, sangat merugikan Kampung ini.

Seolah apa yang kami lakukan sejak penanganan pascabencana bersama warga hingga empat (4) bulan berlalu, hingga saat ini seakan sia-sia dan seolah tidak ada artinya, akibat kelakuan beberapa orang yang memprovokasi warga.

Lain lagi Video Tersebut telah dibagikan oleh beberapa orang di medsos yang sebagian kenal dan ada juga yang tidak. Banyak Netizen mencecar dan memaki Reje dalam kolom komentar terhadap video yang di posting tersebut.

Saya merasakan kesedihan atas hal itu. Betapa tidak, bantuan yang begitu banyak menghampiri Kampung Paya Tumpi Baru ketika pasca bencana ketika itu, bisa hilang gegara Video Viral yang dibalut ocehan fitnah semata. Memang fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Langkah Hukum

Sampai saat ini atas nama pribadi dan juga pemerintah kampung, telah berencana melakukan upaya hukum. Tapi bijak sana Saya atas nama Pemerintah Kampung Paya Tumpi Baru, akan meminta pertanggungjawaban kepada yang bersangkutan dan rekananya yang ikut membantu dan menyebarkan Video Viral tersebut.

Apakah mereka dapat membersihkan nama baik Saya terutama sekali. Adakah niat dari yang bersangkutan meminta maaf. Bila tidak maka dengan berberat hati akan ada langkah hukum kepada yang bersangkutan termasuk actor dan provokator yang menggiring masa, untuk membentuk opini sesat kepada Reje dan Pemerintahan Kampung Paya Tumpi Baru“.

Demikian pernyataan Idrus sebagai klarifikasi terhadap penyebaran konten viral ini, dirinya berharap kepada yang bersangkutan agar mempertanggungjawabkan perbuatanya. Langkah bijak ditempuh Idrus dan aparatur kampung setempat, dalam waktu dekat akan menyurati si perekam vidio.

Pihak aparatur desa akan meminta yang bersangkutan untuk meminta maaf, dengan cara sama disebarluaskan melalui media sosial. Sehingga nama baik dirinya secara pribadi, bersama keluarga dan aparatur kampung dapat kembali pulih.

Dengan adanya itikad baik dan pernyataan maaf dari yang bersangkutan, maka hal ini tidak akan dipermasalahkan lagi. Namun jika setelah disurati tidak ditanggapi, untuk memperbaiki masalah ini maka pihaknya akan menempuh jalur hukum. (R)