Aksi Resilien Mahasiswa IAIN Langsa dan Monash University Gelar Pertukaran Budaya di tengah Pandemi, “Kok bisa?”

Penulis: Keane Mariza Ajani, Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris, IAIN Langsa.

Banyak hal yang tidak perlu lagi diratapi dengan sendu ketika berbicara tentang pandemi.
Jika disikapi dengan positif, pandemi nyatanya telah membawa sebuah perubahan yang
signifikansinya tidak terelakkan lagi, terutama dalam menumbuhkan pribadi mahasiswa yang
bersifat resilien. Sederhananya, pribadi yang resilien sendiri adalah individu yang cakap
beradaptasi, mengubah ancaman yang ada menjadi sebuah kesempatan untuk tetap bertumbuh dan
berkembang bahkan ke arah perubahan yang lebih baik.

Dalam berbagai kajian, resiliensi dianggap sebagai pondasi atau kekuatan dasar karakter
positif dalam emosional seseorang. Luthar sendiri, berpendapat bahwa ini merupakan sebuah
proses adaptasi yang bersifat dinamis dalam menghadapi suatu hambatan yang ada secara cermat.

Pada awalnya, menghadapi situasi pendidikan di Indonesia di masa pandemi bukanlah
suatu hal yang mudah bagi para mahasiswa. Apalagi pandemi bukan hanya berdampak pada dunia
pendidikan, melainkan seluruh aspek kehidupan bernegara, baik sosial, spiritual, finansial bahkan
mental dan emosional.

Namun, mereka yang resilien akan mampu mengatasi krisis dengan perilaku, pikiran, dan
sikap yang mencerminkan ketangguhan diri secara proaktif dengan mengubah sesuatu yang selama
ini dipandang sulit menjadi sebuah tantangan yang menyenangkan.

Memiliki kepekaan untuk menanggapi perubahan yang ada, mereka hadir dengan sikap
khasnya yaitu memandang setiap persoalan di sekitarnya dengan kritis melalui pendekatan yang
akademik. Tentu saja, hal tersebut acap kali terkait dengan kondisi yang terjadi di tengah-tengah
masyarakat. Tentunya, pola pikir tersebut diyakini dapat melahirkan gebrakan-gebrakan yang turut
mewarnai dunia pendidikan Indonesia.

Aceh sendiri, menyimpan salah satu keagungan harta karun dalam hal ini. Adalah para
mahasiswa agen perubahan yang kini siap pasang badan menjadi garda pertukaran pada masa
pandemi Covid-19, sebagai aksi nyata perjuangan resiliensinya.

Alih-alih meratapi nasib akibat fakumnya perkuliahan tatap muka, mahasiswa IAIN
Langsa jurusan Tadris Bahasa Inggris memilih untuk memanfaatkan kemampuan berbahasa asing
mereka dengan memberikan sebuah kontribusi nyata dalam program yang berjudul Intercultural
Peering Discussion Activities.

Program yang dihitung sebagai Kegiatan Pengabdian Masyarakat tersebut merupakan
sebuah aktifitas diskusi interaktif dalam rangka pertukaran budaya antara mahasiswa IAIN Langsa
dan mahasiswa internasional universitas kenamaan dunia Monash University. Budaya sendiri
merupakan simbol yang berkaitan dengan segala unsur dalam kehidupan bermasyarakat, baik
politik, adat istiadat, maupun bahasa yang diturunkan secara turun-temurun. Oleh sebab itulah,
sudah merupakan sebuah kewajiban bagi generasi saat ini untuk memperkenalkan ragam budaya
yang ada secara menarik melalui digitalisasi yang sedang berkembang pesat saat ini.

Kegiatan ini sendiri adalah hasil keberanian dari Husnul Khatimah, M. Pd. Beliau adalah
salah seorang dosen IAIN Langsa yang sedang gencar dalam menyuarakan Autonomous Learning
dikalangan mahasiswa. Yakni sebuah pendekatan pembelajaran dimana mahasiswa memegang
kekuasaan penuh dalam mengatur aktivitas pembelajaran mereka sendiri, terkhusus pada masa
pandemi dewasa ini. Singkatnya, beliau juga merupakan founder dari TCC (TOEFL Clinic Corner)
IAIN Langsa. Dengan bantuan anggota yang juga sekaligus mahasiswa binaanya, kegiatan ini
sukses terealisasikan.

Pembukaan kegiatan ini sendiri sudah berlangsung pada tanggal 20 Maret 2021 yang lalu.
Dengan disambut secara virtual oleh Nina Afrida, M.Pd selaku Ketua Prodi TBI IAIN Langsa dan
diresmikan oleh Dr. Zulfitri, MA selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FTIK IAIN Langsa.
Untuk saat ini, kegiatan masih akan terus berlanjut setiap minggungnya hingga acara penutupan
pada 29 Mei 2021. Walau hanya diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi ZOOM Meeting,
kegiatan ini tidak mengurangi antusiasme mahasiswa untuk mempresentasikan indahnya
keberagaman budaya Indonesia, terutama yang ada di Aceh.

Dalam kegiatan ini, Tadris Bahasa Inggris IAIN Langsa mendelegasikan enam orang
pembicara terbaiknya yang akan menjadi agen pertukaran budaya kali ini, yakni Husnul Yakin,
Karunia Ramadhan, Keane Mariza Ajani, Salman Al Farizzi ZA, Sekar Ayu Lestari, dan Suzucy
Yanelda.

Mengusung keberagaman budaya, topik diskusi yang disuguhkan juga sangat menarik di
setiap pertemuannya. Pada sesi presentasi kebudayaan, mahasiswa akan diperkenankan untuk
menjelaskan tentang kebudayaan yang ada secara mendetail dengan gaya dan ciri khasnya masingmasing. Adapun topiknya antara lain sebagai berikut, yakni, Tradition in our Culture, Ethiquette
in our Society, Interesting Facts about our Country, Do and Dont’s in our country, Language
Exchange, and Communication Barriers in our Language.

Selanjutnya, pada sesi diskusi interaktif atau tanya jawab, mahasiswa dari dua kebudayaan
yang berbeda akan saling bertukar pandang dan pengalaman terkait perbedaan yang ada. Pada
salah satu kegiatan yang berlangsung, Nooreni Baren, salah seorang mahasiswa international dari
Monash University asal Singapura turut memaparkan beberapa pengalaman shock culture nya dan
cara ia berasimilasi dengan kebudayaan Australia selama menimba ilmu di negeri Kangguru
tersebut. Selanjutnya, aktifitas diskusi tersebut menjadi lebih menarik dengan pertanyaan dan
pengalaman berbeda yang dilontarkan dari kedua belah pihak.

“Mahasiswa itu bukan hanya agent of change tetapi juga agent of exchange, hal ini telah membuat
kami bersemangat untuk menghidupkan momen-momen pertukaran budaya yang selama ini
identik dengan pertemuan tatap muka, disuguhkan melalui pemanfaatan ruang kelas tanpa
dinding, yakni daring. Kapan lagi coba bisa diskusi sama mahasiswa Monash Univeristy!” Tegas
salah seorang mahasiswa yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Dengan dukungan dari berbagai pihak yang turut menyukseskan serta memberi warna
kegiatan ini, diharapkan dapat menjadi sarana bagi para mahasiswa untuk lebih terbuka dengan
perbedaan yang ada, menambah safana ilmu pengetahuan, menjalin relasi dengan mahasiswa
manca negara, dan tentunya dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk dapat turut andil
dalam proses resiliensi mereka di tengah pandemi yang sedang melanda dunia pendidikan di
Indonesia.

Sejatinya, ditengah situasi pandemi yang masih melanda, hanya ada dua pilihan yang saling
berkesinambungan. Pertama, pandemi akan membuat kita semakin memburuk jika tidak disikapi
dengan baik. Kedua, pandemi akan membuat kita semakin bangkit dan berkembang jika disikapi
dengan baik. Untuk menyikapinya dengan baik atau buruk, pilihannya ada ditangan kita sebagai
mahasiswa.

Apakah kita memilih menjadi mahasiswa yang resilien dan ambil andil menjadi garda
paling depan untuk menyuarakan perubahan atau hanya memilih diam sebagai pengamat sejati
tanpa aksi dan suara dari balik layar? Sungguh bukan waktunya lagi.