Oleh : H. Muhammad Yusuf, S.Pd.I

Wafatnya para ulama besar Aceh meninggalkan duka mendalam bagi umat Islam. Setelah sebelumnya sederetan ulama kharismatik Aceh wafat seperti Tgk. Mustafa Ahmad (Abu Paloh Gadeng), Abu Kruet Lintang, Abu Matang Peureulak dan Waled Ulee Titi.

Pada Kamis, tanggal 3 Juni 2021, ummat Islam di Aceh kembali berduka dengan berpulangnya kerahmatullah tiga ulama, yaitu H. Ramli Ben Cut, yang akrab disapa Abati Babah Buloh, Tgk. Abdullah yang dikenal Tgk. Kuroek Paya Kambuek dan Tgk. Muhammad Nasir Bin Tgk Thaib (Abon Nasir), guru Senior pada Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh, Bireuen.

Wafatnya ulama yang merupakan pewaris Nabi, jelas musibah tak tergantikan bagi umat Islam. Wafatnya ulama salah satu tanda dekatnya akhir zaman.

Rasulullah SAW bersabda:
ูˆูŽู…ูู†ู’ ุฃูŽุดู’ุฑูŽุงุทู ุงู„ุณู‘ูŽุงุนูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฑู’ููŽุนูŽ ุงู„ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽูŠูุซู’ุจุชูŽ ุงู„ุฌูŽู‡ู’ู„ู
“Sebagian tanda datangnya Hari Kiamat diangkatnya ilmu dan tinggallah kedunguan (kebodohan).”

Wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat besar, di antaranya munculnya pemimpin baru yang tidak mengerti tentang agama, sehingga dapat menyesatkan umat, sebagaimana dalam hadits sahih.
ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ู„ุง ูŠู‚ุจุถ ุงู„ุนู„ู… ุงู†ุชุฒุงุนุง ูŠู†ุชุฒุนู‡ ู…ู† ุงู„ู†ุงุณ ุŒ ูˆู„ูƒู† ูŠู‚ุจุถ ุงู„ุนู„ู… ุจู‚ุจุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุญุชู‰ ุฅุฐุง ู„ู… ูŠุชุฑูƒ ุนุงู„ู…ุง ุงุชุฎุฐ ุงู„ู†ุงุณ ุฑุกูˆุณุง ุฌู‡ุงู„ุง ูุณุฆู„ูˆุง ูุฃูุชูˆุง ุจุบูŠุฑ ุนู„ู… ูุถู„ูˆุง ูˆุฃุถู„ูˆุง
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR al-Bukhari).

Sebagai muslim, tentu merasa kehilangan dan bersedih atas wafatnya para ulama. Hanya orang munafik saja yang tidak bersedih atas wafatnya pewaris Nabi.

Semakin banyak ulama yang wafat maka akan semakin banyak sumber ilmu agama yang hilang. Karena meninggalnya ulama tak kan tergantikan dengan yang lain.

Wafatnya ulama adalah hilangnya ilmu umat manusia. Dapat hidup bersama para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia. Semasa ulama hidup, manusia dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu.

Hal inilah yang disabdakan Rasulullah SAW :
ุฎูุฐููˆุง ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฐู’ู‡ูŽุจูŽ โ€ ุŒ ู‚ูŽุงู„ููˆุง : ูˆูŽูƒูŽูŠู’ููŽ ูŠูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูŠูŽุง ู†ูŽุจููŠูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ:ุฅูู†ูŽู‘ ุฐูŽู‡ูŽุงุจูŽ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฐู’ู‡ูŽุจูŽ ุญูŽู…ูŽู„ูŽุชูู‡ู
“Ambillah (Pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi! Sahabat bertanya: Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi (hilang)?โ€ Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab, โ€œPerginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama)” (HR Ad-Darimi, At-Thabrani dari Abu Umamah).

Ketika ilmu sudah pergi atau diangkat dari muka bumi, kemudian timbul kebodohan dan akhirnya kebatilan merajalela, maka itulah awal dari kehancuran dan sebuah pertanda akhir zaman atau dunia sudah dekat dengan Kiamat.

Oleh karena itu, wafatnya para ulama sebuah pertanda dekatnya akhir zaman dan banyak memberikan pembelajaran. Menyadarkan kita bahwa setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Setiap peristiwa kematian dijadikan sebagai alarm pengingat diri, bahwa hanya akhiratlah tempat kita kembali.

Semoga Para Ulama yang telah wafat dalam keadaan husnul khatimah dan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT serta kita bisa memetik hikmah dibalik wafatnya para ulama kita tersebut.

Mari kita mendoakan agar para ulama yang masih bersama kita (rata-rata memasuki usia renta), diberkahi kesehatan, umur panjang dan sehat wal afiat. Amin ya Rabbal โ€˜alamin. (H. Muhammad Yusuf, S.Pd.I – Aceh Utara 05 Juni 2021)